Tel: (021) 75791272 Email: sekr-pte@bppt.go.id

“Apakah kami bisa magang atau skripsi di Pusat Teknologi Elektronika?”

“Apakah kami bisa magang atau skripsi di Pusat Teknologi Elektronika?” pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa IPB Bogor Departemen Fisika saat melakukan kunjungan ke Laboratorium laboratorium yang ada Pusat Teknologi Elektronika (PTE), Serpong pada tanggal 23 November 2017. Sebelum mengunjungi laboratorium, rombongan yang terdiri dari 100 orang yang terdiri dari mahasiswa dan dosen pembimbing, disambut oleh Humas BPPT di auditorium Gedung Pusat Inovasi dan Bisnis Teknologi Puspiptek, Serpong. Pada kesempatan ini pihak Humas memperkenalkan BPPT oleh Humas BPPT dan Pusat Teknologi Elektronika sebagai salah satu unit kerja di BPPT.

Pada saat kunjungan rombongan ke laboratorium, mereka diperkenalkan tentang kegiatan yang sedang, dan telah dikembangkan di laboratorium-laboratorium PTE seperti  Laboratorium Teknologi Kartu Cerdas, Laboratorium Telemedicine, Laboratorium Kompatibilitas Elektromagnetik (Electromagnetic Compability/EMC), Laboratorium MDN ( Multimedia Digital Network ) dan Laboratorium Fotonika.

Antusias mahasiswa dan Dosen Pendamping sangat terlihat dari dari pertanyaan – pertanyaan kritis yang diajukan mahasiswa yang mengaitkan antara teori yang telah dikuasainya dengan berbagai terapan di Laboratorium PTE. Diskusipun menjadi sangat menarik di setiap laboratorium yang dikunjungi.

Ketika di Lab Teknologi Kartu Cerdas, dijelaskan oleh personel lab mengenai Electrostatic Discharge, baik cara kerja, standar yang digunakan dan pentingnya uji ESD, “Saat ini anak – anak di kampus sedang mempelajari Listrik Statis pada mata kuliah Elektronika Dasar, bahwa Listrik statis adalah energi yg dikandung oleh benda yang bermuatan listrik. Ingat Proton, Elektron dan Gesekan serta dampaknya, disini kita bisa lihat bagaimana teori tersebut diterapkan”. kata Drs. Moh. Nur Indro, M.Sc, selaku dosen pembimbing, sambil mengajak para mahasiswa mengingat kembali pelajaran pada mata kuliah tersebut.

Demikian pula ketika Telemedicine Chart disimulasikan mengenai dokter – pasien berinteraksi melalui teknologi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan memperlihatkan antusiasme mahasiswa. Kunjungan ke Laboratorium EMC yang berukuran 10x10 meter merupakan pengalaman pertama bagi mahasiswa. Memang chamber EMC merupakan yang terbesar saat ini di Indonesia. Bahan material absorber yang digunakan di dalam chamber dan prosedur pengujian menjadi hal yang paling menarik bagi mahasiswa. Laboratorium Fotonika menyajikan informasi yang tidak kalah menarik mengenai Li-Fi (Light-Fidelity) yang langsung disampaikan oleh Dr. Sasono Rahardjo, yang menegaskan bagaimana cahaya disekitar kita masih

terbuang belum dimanfaatkan. Laboratorium MDN menjadi penutup dari rangkaian kunjungan, dengan memperlihatkan teknologi AIS

(Automatic Identification System) dan LoRA (Long Range) yang merupakan suatu format modulasi, dapat dimanfaatkan untuk membantu nelayan dalam navigasi dan menangkap ikan.

Pada akhirnya rombongan harus kembali ke kampus Dramaga Bogor dan acarapun berakhir pada pukul 16.00. (fit)

 

Sistem Pemantau Penerbangan Nir Radar Berbasis ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast)

Sistem ADS-B adalah sistem navigasi penerbangan dimana tiap pesawat terbang memancarkan data penerbangannya (identitas, koordinat, ketinggian, kecepatan, dsb) ke segala arah secara terus menerus melalui media gelombang radio, dan data tersebut diterima oleh perangkat penerima yang ada di pesawat lain atau di stasiun darat (ADS-B Ground Station). Kelebihan sistem ADS-B dibandingkan dengan sistem radar adalah kemampuan untuk mendeteksi pesawat pada area tertentu yang tidak terjangkau oleh radar sehingga data penerbangan yang diterima akan menjadi relatif lebih banyak. Di samping itu, biaya pengadaan peralatan, pengoperasian dan pemeliharaan sistem ADS-B juga relatif lebih murah.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi(BPPT) sejak tahun 2007 melakukan pengkajian dan pengembangan sistem pemantau penerbangan berbasis ADS-B, yaitu sistem pemantauan penerbangan sipil nir radar yang digunakan untuk stasiun darat. Prototipe industri sistem ADS-B yang diproduksi oleh PT INTI telah diuji kehandalannya dan mampu untuk menerima dan mengolah data penerbangan yang menggunakan standar internasional. Pengujian yang dilakukan di Laboratorium Navigasi BPPT maupun pengujian lapangan Stasiun Darat di Menara Navigasi BPPT di Puspiptek Serpong selama kurang lebih satu tahun telah membuktikan pemenuhan terhadap Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: KP 331 Tahun 2016 tentang Pedoman Teknis Operasional 171-08 (Advisory Circular Part 171-08) Sertifikasi Tipe Peralatan Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) System. Peraturan ini merangkum atau mencakup persyaratan teknis yang berlaku internasional, yaitu EUROCAE ED129A dan RTCA DO-260A/B, yang merupakan de facto standar bagi perangkat dan sistem ADS-B dalam dunia navigasi penerbangan.

Saat ini Indonesia telah terpasang 31 Stasiun Darat ADS-B yang dapat mencakup seluruh ruang udara Indonesia untuk phase En-route pada ketinggian diatas FL290; 10 Stasiun Darat terintegrasi dengan JATSC (Jakarta) dan 21 Stasiun Darat terintegrasi dengan MATSC (Makassar). Namun ADS-B yang terpasang merupakan produk impor. Indonesia terdapat 295 Bandarudara, dimana sekitar 255 Bandar Udara masih merupakan Bandar Udara non-radar yang berpotensi membutuhkan perangkat ADS-B untuk Mini ATC dan Airport Ground Movement Monitoring, serta banyak Stasiun Darat di lokasi lain. Pada tahun 2017 Sistem ADS-B direncanakan akan dipasang dibeberapa Bandara Papua.

 Sebagai bangsa Indonesia, kita merasa bangga bisa menyaksikan produk teknologi anak bangsa yang berhasil berdiri sejajar dengan teknologi buatan negara maju, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Hari ini Sistem ADS-B BPPT- PT INTI dinyatakan telah memenuhi persyaratan sertifikasi, sehingga Kementerian Perhubungan memberikan sertifikat tipe untuk Sistem ADS-B tersebut. Hal ini akan menjadi tonggak sejarah kemandirian dan daya saing bangsa.

Proses sertifikasi ini bukanlah sebuah proses yang sederhana. Diperlukan kerja keras dan terobosan-terobosan dan peran dukungan dari berbagai pemangku kepentingan sehingga proses sertifikasi dapat diwujudkan.

Ketika sistem ADS-B ini sudah berhasil disertifikasi, maka sistem ini akan menjadi produk kebanggaan nasional, yang memiliki kecanggihan setara dengan produk negara maju, dan diperkuat dengan keunggulan lokal.

Sistem Pemantau Penerbangan Nir Radar Berbasis ADS-B ini bisa terwujud berkat kerjasama dan dukungan dari para pemangku kepentingan yaitu BPPT, Kementrian Perhubungan, Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Pebnerbangan Indonesia (AirNav Indonesia), dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), serta industri nasional pendukung lainnya, yaitu PT Hikari Solusindo Sukses dan PT CMI Teknologi, yang terus bersinergi dalam menghadirkan produk nasional ini. Kami tetap berkomitmen untuk melakukan sinergi dalam mengembangkan produk teknologi turunan lainnya diwaktu yang akan datang.

PTE BPPT dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) akan berkolaborasi membangun Teknologi Elektronika di Indonesia

Dalam rangka sinergi antara lembaga riset (pemerintah), akedimisi dan Industri (bisnis), Tim Pusat Teknologi Elektronika (PTE) BPPT, mengadakan kunjungan kerja di Teknik Elektro, FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, ITS Surabaya. Kunjungan kali  membahas, kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan kajian dan terap teknologi pada bidang teknologi elektronika baik  di masing masing kedua Institusi.

Berdasarakan hasil dari presentasi dari kedua pihak dapat disimpulkan bahwa beberapa kegiatan di PTE sebagian besar sama dengan kegiatan yang telah dilakukan di ITS. Terkait dengan poin diatas PTE memberikan kesempatan bilamana ada ada mahasiswa yang ingin magang atau tugas akhir di PTE.

Kendala mahasiswa yang melaksanakan tugas akhir di PTE adalah tempat dan waktu yang diperlukan untuk tinggal di serpong. Salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah mencari topik yang tidak memerlukan waktu tinggal di serpong atau mencari mahasiswa yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya.

Beberapa hasil dari penelitian ITS yang sebenarnya sudah marketable maka  dengan adanya kerjasama dengan pihak PTE BPPT diharapkan adanya link match atau sinergi antara lembaga riset (pemerintah), akedimisi dan Industri (bisnis). Dengan hal ini maka diharapkan permasalahan yang dihadapi oleh pihak akademisi seperti masalah sertifikasi dan regulasi dapat diatasi.

Pihak PTE BPPT mengundang pihak Departemen Teknik Elektro ITS untuk memberikan paparan atau masukan mengenai semua kegiatan yang sudah dilaksanakan  oleh ITS untuk kemungkinan mensinergikan kegiatan antara ITS dengan PTE BPPT.

Selain itu ,beberapa dosen di ITS memiliki sertifikat untuk melaksanakan sertifikasi personel sehingga bisa berkolaborasi dengan BPPT. Kegiatan yang dimungkinkan untuk implementasi kolaborasi ini adalah pelatihan. Salah satu skema yang dapat dilakukan untuk kegiatan ini adalah kegiatan pelatihan optik yang selama ini telah diinisiasi oleh tim PTE BPPT dengan pihak ITS Surabaya. Pihak ITS menyambut baik usulan ini sebagai salah satu bentuk pengabdian masyarakat ITS ke masyarakat. Pihak ITS berharap inisiasi kegiatan ini dapat diwujudkan sebagai salah satu implementasi kolaborasi antara Departemen Teknik Elektro ITS dengan PTE BPPT.

Dengan kesamaan kegiatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak diharapkan ITS dan  PTE bisa berkolaborasi diantaranya dengan melanjutkan atau memperbaharui perjanjian kerjasama yang telah dilakukan dengan BPPT.

Pertemuan dihadiri oleh;

  1. Achmad Wibisono, ST ; Kabag Program dan Anggaran PTE
  2. Arief Rufiyanto, M Eng
  3. Abhimata Rasyid, SI
  4. Willy Dharmawan, ST
  5. Dr. Ir. Gamantyo Hendrantoro, Ph.D
  6. Ir. Endroyono, DEA
  7. Ir. Wirawan DEA
  8. Ir. Puji Handayani, MT.
  9. Devy Kuswidiastuti, ST., M.Sc.
  10. Sri Rahayu, ST, MKom

Pelatihan ECDIS bagi Tim Kegiatan Sistem Elektronika Navigasi – Pusat Teknologi Elektronika BPPT

Dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM, Pusat Teknologi Elektronika bekerjasama dengan SOLUSI247 mengadakan pelatihan ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) selama dua hari pada tanggal 19 dan 20 oktober di PUSPIPTEK Serpong.

Electronic Chart Display & Information System (ECDIS) adalah sistem navigasi informasi berbasis GIS (Geographic Information System) yang sesuai dengan peraturan International Maritime Organization (IMO) dan dapat digunakan sebagai alternatif penggunaan paper navigation charts.

Pelatihan ini dikuti oleh staf dari Pusat Teknologi Elektronika-BPPT, khususnya bagi perekayasa yang mengembangkan Sistem Navigasi Laut dari kegiatan Sistem Elektronika Navigasi (SEN).

Adapun tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan tentang ECDIS secara umum, peraturan internasional yang mengatur pengembangan ECDIS, serta cara pengembangkan ECDIS yang sesuai dengan standar yang berlaku. Dalam pelatihan ini juga dilakukan demo dari operasional perangkat ECDIS yang telah dikembangkan oleh SOLUSI247. Dari pelatihan ini, diharapkan dapat membantu dalam proses pengembangan Sistem Navigasi Laut di Pusat Teknologi Elektronika BPPT. (WSP/DY)

 

Pengembangan AIS -PTE BPPT

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara yang terletak pada koordinat 6°LU – 11°08′LS dan dari 95°’BB – 141°45′ BT memiliki 17.504 pulau besar dan kecil yang menyebar disekitar khatulistiwa dimana diantara ribuan pulau-pulau  tersebut dipisahkan oleh laut, selat dan teluk. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi diseluruh kawasan Indonesia berarti meningkat pula arus distribusi barang dan jasa serta penumpang di kawasan ini, termasuk didalamnya arus  lalu lintas pelayaran laut. Dan yang paling penting dalam hal ini adalah faktor pengawasan, pengaturan dan keselamatan bagi pengguna perairan di sekitar wilayah Indonesia

International Maritime Organization (IMO) sebagai Badan Dunia untuk pelayaran sipil sudah mengatur regulasi untuk meningkatkan keselamatan pelayaran dengan memperkenalkan teknologi Automatic Identification System (AIS) . AIS adalah sistem monitoring pergerakkan kapal laut dengan menggunakan transceiver yang dipasang pada setiap kapal. Transceiver mendapatkan data posisi dari GPS, kemudian posisi pergerakan kapal ini dikirimkan ke sekelilingnya dengan menggunakan frekuensi radio maritim yaitu 161.975 MHz dan 162.025 MHz. Sistem ini menggunakan Time Division Multiple Access (TDMA) sebagai metoda aksesnya untuk menjamin semua AIS Message tidak saling mengganggu pada trafik pelayaran yang padat.

Setiap kapal akan mem-broadcast AIS Message yang berisi Data ID kapal, posisi, kecepatan kapal dan message lainnya, untuk keperluan pengaturan lalu-lintas pelayaran. Dengan teknologi ini juga menjadikan kapal lainnya yang dilengkapi AIS Transceiver dapat memantau situasi sekeliling kapal (situasional awareness) yang muncul pada layar display monitoring. Dengan situasional awareness seperti ini tentu saja keselamatan lalu lintas pelayaran laut dapat ditingkatkan dan pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementrian Perhubungan dapat memonitor seluruh traffic lalu-lintas pelayaran di wilayah perairan Indonesia dengan lebih baik.

IMO sudah membuat standard AIS Transceiver untuk kapal-kapal dibawah 300 GT ini sesuai dengan standard Recommendation ITU-R M.1371-4Technical characteristics for an automatic identification system using time-division  multiple access in the VHF maritime  mobile band.  Setiap vendor pembuat AIS Transceiver dapat membuat perangkat ini sesuai dengan standard tersebut

Pesatnya perkembangan teknologi komponen elektronika, teknologi gelombang radio dan perkembangan teknologi komputer telah mendorong lajunya perkembangan teknologi monitoring dan navigasi transportasi, dalam hal ini teknologi elektronika navigasi untuk transportasi laut. Maka bangsa Indonesia harus dapat mengikuti perkembangan ini dan sedapat mungkin mengurangi  ketergantungang dari produk industri dari luar.

Mengingat pentingnya hal ini, maka BPPT telah memulai melakukan kegiatan Pengkajian & Penerapan Teknologi bidang Teknologi Elektronika Navigasi Laut untuk berkontribusi dalam peningkatan keselamatan transportasi laut serta untuk meningkatkan kemandirian bangsa

Hasil inovasi  :

  1. Kajian Dokumen Standard IEC 62287-1:2010 Maritime navigation and radiocommunication equipment and systems - Class B shipborne equipment of the automatic identification system (AIS) - Part 1: Carrier-sense time division multiple access (CSTDMA) techniques, serta ITU-R M.1371-4 Technical characteristics for an automatic identification system using time-division multiple access in the VHF maritime mobile band.  
  2. Pengembangan Prototipe (tahap awal): AIS Transceiver Class B, serta perangkat lunak untuk menampilkan pergerakan kapal-kapal tersebut dengan menggunakan Peta Navigasi Elektronik (ENC) dari Pushidros TNI-AL.
  3. Pengujian prototipe di Laboratorium BPPT

Aktivitas inovasi selanjutnya :

  • Penyempurnaan prototipe dan pengujian lapangan
  • Koordinasi dengan stake holder

Besar harapan aktivitas inovasi sistem elektronika navigasi laut ini dapat  menghasilkan produk yang sesuai dengan tujuan dan harapan. Dan hal yang sangat penting yaitu perlu adanya kerjasama yang sinergis dengan semua pihak terkait, agar menghasilkan produk yang berguna & bermanfaat bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Login Form

Hubungi Kami

Gedung Teknologi Informasi, Komunikasi dan Elektronika, No. 254
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang 15314

Tel: (021) 75791272 Ext. 3555

Fax: (021) 75791266