Tel: (021) 75791272 Email: sekr-pte@bppt.go.id

PTE Ikut Berpartisipasi Dalam Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2017

Pada tanggal 17 - 19 Juli 2017, Pusat Teknologi Elektronika, khususnya Kegiatan Sistem Elektronika Navigasi, ikut berpartisipasi dalam KTN 2017 dengan tema “TIK untuk meningkatkan Konektivitas dan kualitas Hidup” dengan men-display Prototipe “Pengembangan Sistem Pemantauan Transportasi Laut” pada booth Pameran PTE/PTIK

Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperlihatkan kegiatan pengembangan yang dikerjakan di Pusat Teknologi Elektronika BPPT kepada masyarakat umum khususnya kepada penggiat teknologi di Indonesia tentang Kegiatan Sistem Elektronika Navigasi dalam mendukung Program Kerja Pemerintah khususnya Program Kerja pada Kementrian Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan Laut dengan menyediakan solusi teknologi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan akan peningkatan keselamatan lalu-lintas pelayaran laut di Indonesia.

Dalam Pameran tersebut diperlihatkan seluruh infrastruktur Teknologi AIS yang biasanya dipasang pada Kapal laut dengan ukuran tonase kecil atau Kapal-kapal Non-SOLAS seperti kapal nelayan penangkap ikan. Infrastruktur nya terdiri dari :

  • AIS Transceiver
  • Mini-ECDIS
  • AIS Antenna
  • Power Management

Pada Mini-ECDIS juga ditampilkan fitur informasi posisi potensi ikan yang informasinya berasal dari data Balai Riset dan Observasi Laut - Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Data-data statis tentang potensi ikan di perairan Indonesia yang dipublikasikan setiap 3 hari sekali dari situs resmi BPOL- KKP http://www.bpol.litbang.kkp.go.id/data-dan-informasi/peta-pdpi kemudian dengan menggunakan proses software engineering dirubah menjadi data dalam GPS eXchange Format  gpx sehingga dapat dibaca oleh Aplikasi Mini-ECDIS yang dikembangkan.

Dengan fitur aplikasi ini memberikan banyak kemudahan untuk nelayan dalam mencari ikan, karena data-data ini adalah data-data citra satellite untuk pergerakan plankton dimana ikan akan selalu bergerak mengikuti pergerakan plankton ini. Nelayan hanya perlu memilih ikon dengan symbol ikan pada layar Mini-ECDIS dimana selanjutnya Mini-ECDIS akan secara otomatis membuat rute menuju titik posisi potensi ikan tersebut.

Mengawali Kerjasama PTE Dengan BIG Melalui FGD

Tim Sistem Elektronika Navigasi, Pusat Teknologi Elektronika (PTE-BPPT) pada hari Selasa tanggal 11 juli  2017 mengundang Badan Informasi Geospasial (BIG) yang diwakilkan oleh Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika dalam kegiatan Forum Group Discussion (FGD) di Hotel Santika-BSD. Kegiatan FGD ini  dalam rangka menindaklanjuti Nota Kesepahaman yang telah ditandangani pada tanggal 11 April 2017 lalu oleh Kepala BPPT Unggul Priyanto dan Kepala BIG Hasanuddin Z Abidin antara BPPT dengan BIG mengenai mengenai pengkajian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembangunan di bidang informasi geospasial, di Gedung BIG, Cibinong, Bogor (sumber: HumasBPPT-Joep).

FGD yang mengacu pada Nota Kesepahaman tersebut mengawali kerjasama antara PTE-BPPT dengan BIG terkait informasi geospasial, khususnya mengenai metode penetapan koordinat sebuah titik di permukaan bumi dengan menggunakan Global Navigation Satelite System (GNSS) dimana para peneliti BIG bertindak sebagai nara sumber.

Kegiatan kerekayasaan Sistem Elektronika Navigasi (SEN) di PTE BPPT memerlukan sebuah titik koordinat dengan akurasi tinggi sebagai tolok ukur/referensi pengukuran dalam pengujian parameter posisi yang dihasilkan sensor – sensor yang dikembangkan dalam kegiatan SEN.

Direktur PTE, Yudi Purwantoro dalam sambutannya menekankan bahwa sasaran dari kegiatan pengembangan   prototip  elektronika navigasi bandara (ground movement) maupun navigasi laut adalah sertifikasi, maka hasil pengukuran yang dilakukan harus diyakini kebenarannya.

Selain itu ditambahkan oleh Sardjono Trihatmo, Group Leader tim pengujian bahwa masih belum ada kesamaan persepsi di kalangan perekayasa PTE  mengenai makna dan perbedaan antara terminologi akurasi dan presisi dari sebuah perangkat. Ditambah pula ada indikasi masih perlunya peningkatan pengetahuan mengenai sistem GNSS dan proses kalkulasi posisi yang memperhatikan faktor – faktor kesalahan dengan menggunakan sistem satelit navigasi tersebut.

Dengan demikian diharapkan bahwa dari knowledge sharing dalam FGD ini, terbentuk kesamaan pandangan terhadap kerja sistem GNSS, metode pengukuran, faktor – faktor kesalahan dalam pengukuran dan juga terminologi – terminologi pengukuran sehingga metode pengujian sensor yang dikembangkan dapat disepakati semua pihak.

Dalam kesempatan ini BIG juga berbagi informasi tentang berbagai jenis satelit navigasi yang ada saat ini, seperti GPS milik Amerika terdiri dari 32 satelit dimana 24 satelit operasional dalam 6 lintasan orbit dengan masing-masing 4 satelit. GLONASS (Global Navigation Satelite System), milik Rusia, juga telah efektif menyediakan layanan global. Total satelit 27 dengan satelit yang beroperasi penuh 23 satelit, GALILEO milik Eropa yang dikembangkan oleh Uni Eropa bekerjasama dengan Eurepean Space Agency (ESA), setidaknya 11 satelit telah operasional, BEIDOU/COMPASS sistem navigasi regional, dikembangkan oleh Tiongkok, 21 satelit operasional, dan IRNSS- India Regional Satelite System milik India 7 satelit pada orbitnya.

BIG juga menyampaikan metode pengukuran satelit dan sebab-sebab ketidakakuratan pengukuran yang sering terjadi.

Selanjutnya didiskusikan permasalahan yang dihadapi PTE terkait sistem navigasi dan dikaitkan dengan kompetensi yang dimiliki BIG. Diharapkan kerjasama terkait sistem navigasi antara BPPT dan BIG dapat lebih baik lagi di masa depan.

Pusat Teknologi Elektronika- BPPT Menyelenggarakan FGD dengan tema “Inovasi Dan Pemanfaatan Teknologi Telemedicine Untuk Meningkatkan Pemerataan, Jangkauan & Kualitas Layanan Kesehatan Di Puskemas & Rumah Sakit”

Pada tanggal 18 Mei 2017, Pusat Teknologi Elektronika, khususnya Kegiatan Telemedicine, menyelenggarakan Focus Group Discussion dengan tema “Inovasi Dan Pemanfaatan Teknologi Telemedicine Untuk Meningkatkan Pemerataan, Jangkauan Dan Kualitas Layanan Kesehatan Di Puskemas Dan Rumah Sakit”. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber yang cukup ahli dan pakar di bidang teknologi Telemedicine, seperti, Dr. Pratondo Busono (Peneliti BPPT di Bidang Telemedicine), dr. Mujaddid (Kepala Subdit Pelayanan Penunjang Kemenkes RI), dr. Koesmedi Priharto (Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta), Dr. Ir. Wahyuddin Bagenda (Direktur Teknologi Informasi BPJS) dan Prof. dr. Agus Purwadianto (Perwakilan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia).

FGD ini dibuka oleh Direktur Pusat Teknologi Elektronika, Dr. Yudi Purwantoro. Pada sambutan tersebut, beliau menjelaskan tugas dan fungsi BPPT, dalam bidang kesehatan ingin berkontribusi dalam problematika alat kesehatan. Beliau menekankan bahwa, BPPT-PTE memerlukan feedback dari Industri dan institusi kesehatan yang lain untuk menghasilkan output yang baik. Dari kegiatan FGD ini, beliau berharap terjadinya penguatan output dari kegiatan Telemedicine di PTE.

Kemudian, acara dilanjutkan ke sesi utama yaitu sesi pemaparan dengan moderator Dr. Yaya Suryana, Peneliti PTE-BPPT. Pada pembahasan pertama, Pak Pratondo, memberikan penjelasan terkait ulasan kegiatan (Progress Report) Telemedicine yang telah dilakukan di PTE BPPT. Beliau menjelaskan bahwa telemedicine merupakan pelayanan kesehatan dilakukan jarak jauh diantaranya teleconsultation dan automated asessment. Dengan dasar fungsi tersebut, beliau memperkenalkan Telemedicine Cart yang saat ini sedang dikembangkan di BPPT. Sistem ini akan berbasiskan ISO 13485:2003, 7.3. Pada tahun 2017 ini, beliau menargetkan prototipe sistem telemedicine yang akan teruji keamanan (EMC dan kelistrikkan) dan teruji secara fungsi (laboratorium dan lapangan).

Kemudian narasumber ke dua, Pak Mujaddid memaparkan telemedicine dari segi pedoman dan aturan. Beliau menyampaikan bahwa, saat ini, pedoman telemedicine nasional sedang didiskusikan untuk pembuatan peraturan menteri. Menurut beliau, banyak parameter yang menjadi pertimbangan dalam perumusan PM tersebut. Hal ini memerlukan dukungan berupa masukan dari berbagai pihak.  Selain itu, beliau juga memaparkan strategi pelayanan kesehatan nasional yang secara singkat berkaitan dengan tantangan dan permasalahan terkait program telemedicine dapat mendukung peningkatan akses dan pelayanan mutu kesehatan.

Pada pembahasan ketiga, Pak Koesmeddi memaparkan beberapa sistem Telemedicine sederhana yang telah diimplementasikan di Jakarta, seperti, aplikasi CCTV di ambulance untuk monitoring pasien, Knock Out Door Service (aplikasi pelayanan berbasiskan Whatsapp), dan iSTEMi (Group Whatsapp terkait penyakit jantung). Beliau berpikir bahwa telemedicine yang dikembangkan tidak perlu yang canggih-canggih, tetapi yang penting adalah pemanfaatannya di masyarakat.

Pada paparan terakhir, Pak Wahyudin Bagenda menegaskan bahwa saat ini masih sulit dalam membuat bisnis model dari sistem Telemedicine. Hal ini berkaitan dengan pembagian tarif dalam pemanfaatan teknologi Telemedicine. Selain itu, beliau juga menyampaikan informasi terkait aplikasi yang saat ini dikembangkan yang berfungsi memperkuat layanan di BPJS, seperti pengembangan sistem layanan faskes berbasiskan portal dan mobile. Beberapa aplikasi tersebut kedepannya akan memanfaatkan BPJS cloud yang di dalamnya terdapat Big Data dan Analytic yang akan meningkatkan integritas layanan dari BPJS.

FGD Sistem Elektronika Navigasi Pusat Teknologi Elektronika

Pada tanggal 31 Mei 2017, Pusat Teknologi Elektronika, khususnya Kegiatan Sistem Elektronika Navigasi, menyelenggarakan Focus Group Discussion dengan tema “Pengembangan Sistem Pemantauan Transportasi Laut”. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan antara lain Ibu Erika Marpaung dari Direktorat Kenavigasian  dan Bapak Bagyo dari Direktorat Perkapalan dan Kepelautan.

FGD ini dibuka oleh Kepala Program Kegiatan Sistem Elektronika Navigasi, yang memperkenalkan tentang kegiatan pengembangan sistem pemantauan transportasi laut di BPPT. Kegiatan ini telah dilaksanakan dari tahun lalu dan telah menghasilkan prototipe Automatic Identification System (AIS) Transceiver Class B dan telah pula diuji fungsi dalam skala laboratorium. Beliau juga memaparkan tujuan dari pelaksanaan FGD ini yaitu untuk memperoleh masukan tentang Regulasi dan Teknologi Navigasi Laut dari Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, agar pengembangan AIS yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Group Leader dari WBS Pengembangan Sistem Pemantauan Transportasi Laut, Bapak Wayan Wira, memperkenalkan tim kegiatan pengembangan sistem pematauan transportasi laut di BPPT. Beliau juga menjelaskan tentang Roadmap Kegiatan untuk kurun waktu 2017-2019, beserta ruang lingkup pengembangan dan Milestone Kegiatan dari tahun 2016-sekarang. Secara lebih dalam, beliau menjelaskan tentang standar yang digunakan dalam pengembangan yaitu IEC 62887-1 Edition 2.0 2010-2011. Beliau juga memaparkan skema prototipe awal AIS Transceiver serta skema pengujian skala laboratorium yang telah dilakukan pada prototipe yang dihasilkan.

Acara dilanjutkan dengan paparan oleh Ibu Erika Marpaung mewakili Kasubdit Telekomunikasi Pelayaran, Direktorat Navigasi, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Pada prinsipnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mendukung pengembangan Sistem Pemantau Transportasi Laut oleh BPPT, serta akan mendukung pemenuhan kebutuhan data-data serta kunjungan-kunjungan dalam rangka memenuhi kebutuhan akan data-data tersebut. Beliau menjelaskan mengenai UU No. 17 Tahun 2008 tentang Keselamatan dan Keamanan Pelayaran, yang sesuai dengan ketentuan internasional dan mencakup sarana bantu navigasi pelayaran.  Menurut penjelasan beliau, kenavigasian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran, Telekomunikasi Pelayaran, hidrografi dan meteorologi, alur dan perlintasan, pengerukan dan reklamasi, pemanduan, penanganan kerangka kapal, salvage dan pekerjaan bawah air untuk kepentingan keselamatan pelayaran kapal (Pasal 1- Ketentuan Umum PP-5/2010).  Kenavigasian sendiri terdiri dari dua sistem, yaitu Stasiun Radio Pantai dan Vessel Traffic Service (VTS). Indonesia memiliki beberapa stasiun radio pantai yang telah dilengkapi dengan AIS Base Station di sekitar 50 tempat seperti di Sibolga dan Cirebon. Pemberlakukan AIS untuk kapal sudah diumumkan dalam Maklumat tahun 2008, utamanya untuk kapal di atas 300 Gross Ton (Class A). AIS Class B juga telah diwajibkan untuk kapal kecil (small boat) yang mengangkut logistik dan kru untuk area rig di laut.

Paparan selanjutnya diberikan oleh Bapak Bagyo mewakili Direktorat Perkapalan dan Kepelautan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, yang menjelaskan tentang Sistem Keselamatan Pelayaran, dimana teknologi merupakan salah satu faktor pendukung dalam keselamatan pelayaran. Beliau juga memaparkan tentang isu keselamatan pelayaran, dengan terjadinya kecelakaan di perairan khususnya di alur pelayaran.

Dalam sesi diskusi yang dilaksanakan, para peserta FGD dengan antusias mendiskusikan tentang berbagai isu dan pertanyaan yang muncul selama pengembangan prototipe AIS di BPPT.  Bapak Wayan Wira menanyakan tentang daya yang digunakan oleh perangkat prototipe AIS Class B, yaitu 2 Watt, apakah telah mencukupi untuk komunikasi? Selain itu dari sisi power management, apakah ada ketentuan yang membolehkan AIS tidak harus selalu menyala dan apakah sumber daya AIS harus dibuat tersendiri atau boleh mengambil dari main engine kapal. Menurut Ibu Erika, belum ada aturan spesifik di Indonesia mengenai daya yang diijinkan, namun Tim dari Perhubungan Laut (Hubla) telah menguji coba dengan daya 1 Watt dan mencukupi. Menurut peraturan, kapal harus menghidupkan AIS ketika memasuki daerah pengawasan Hubla (DLKPP). Sedangkan untuk perairan bebas memang tidak ada aturan untuk menghidupkan AIS, sehingga kapal boleh mematikan AISnya dengan dasar pertimbangan keamanan untuk menghindari perompak. Ditambahkan oleh Bapak Fathan dari Hubla, bahwa pengaturan daya perangkat AIS juga merupakan ranah Kementerian Kominfo, sehingga sementara ini disarankan untuk menggunakan nilai 2 Watt. Ketika digunakan di kapal, AIS mengambil sumber daya dari main engine.

Bapak Fathan menanyakan tentang pengujian AIS di BPPT apakah sudah diuji kompatibilitas elektromagnetiknya? Pertanyaan beliau dijawab oleh Bapak Wayan Wira bahwa hal tersebut akan dilaksanakan di Laboratorium Electromagnetic Compatibility (EMC) di BPPT, yang telah ditunjuk sebagai salah satu Lab Uji Kominfo. Bapak Reza dari BPPT menyampaikan kendala yang dihadapi dalam pengujian AIS yaitu perangkat tersebut akan mati di dalam chamber pengujian EMC karena harus terhubung dengan GPS, dimana hal ini akan dicari solusinya oleh Tim BPPT. Bapak Reza juga meminta informasi mengenai daftar frekuensi yang digunakan oleh Hubla untuk mengetahui apakah frekuensi yang digunakan AIS berpotensi berinterferensi dengan frekuensi-frekuensi tersebut.

Berbagai pertanyaan teknis yang lain juga diajukan seperti oleh Ibu Mery mengenai metode akses yang dipakai oleh Hubla, apakah menggunakan metode akses CS-TDMA atau SO-TDMA, karena terkait daya yang dibutuhkan? Dijawab oleh Bapak Fathan bahwa Hubla menggunakan metode CS-TDMA dengan daya 2 Watt.

Masih banyak lagi materi teknis yang didiskusikan dalam FGD ini, hingga mencapai penghujung acara. Banyak hal bermanfaat yang telah diperoleh oleh semua pihak yang terlibat dalam FGD ini. Acara ini akhirnya ditutup oleh Kepala Program Kegiatan Sistem Elektronika, dengan mengucapkan terima kasih atas kontribusi semua pihak yang telah berpartisipasi dalam FGD ini. Diharapkan bahwa informasi-informasi bermanfaat yang telah diperoleh dapat membantu dalam mewujudkan teknologi karya anak bangsa yang dapat meningkatkan keamanan dan keselamatan pelayaran khususnya di Indonesia.

Manfaat & Bahaya Sinyal Elektromagnetik Bagi Lingkungan

Pusat Teknologi Elektronika (PTE) memiliki program seminar ilmiah bulanan yang bertujuan untuk mempublikasikan kegiatan yang telah atau sedang dilakukan di PTE.

Seminar yang diselenggarakan pada tanggal 8 Mei 2017 di gedung Teknoogi 3 – BPPT,  kali ini bertemakan Manfaat dan Bahaya Sinyal Elektromagnetik bagi Lingkungan. Acara ini selain dihadiri oleh staf PTE juga peneliti dan perekayasa lain di lingkungan BPPT yang berkantor di Puspiptek Serpong.

Sebagai pembicara pembuka, Arief Rufiyanto yang merupakan Manajer Teknis Laboratorium Kompatibilitas Elektromagnetik (EMC, Electro Magnetic Compatibility) menyampaikan kegiatan pengujian khususnya untuk ruang lingkup conducted emission dan radiated emission yang telah dilakukan oleh Laboratorium EMC. Disampaikan pula tujuan pengujian, yaitu untuk memastikan bahwa kuat medan/gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan perangkat elektronik tidak melampau limit yang ditentukan  dalam standar CISPR 22 sehingga tidak mengganggu perangkat elektronik lainnya, dan untuk memastikan bahwa sebuah perangkat elektronik tahan terhadap gangguan medan/gelombang elektromagnetik dalam limit yang ditetapkan standar CISPR 24.

Topik-topik berikutnya yang juga menarik dan membuat diskusi semakin seru, antara lain : “potensi bahaya elektromagnetik pada manusia”, “manfaat sinyal elektromagnetik sebagai sumberdaya”, “material pelindung dari bahaya radiasi elektromagnetik”, “desain antena pengumpul radiasi elektromagnetik”, dan “manfaat dan potensi bahaya elektromagnetik terkait perangkat Sistem Elektronika Navigasi”.

Jangan sepelekan paparan radiasi elektromagnetik! Menurut, paparan radiasi elektromagnetik khususnya ponsel dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Dalam rangka mengurangi resiko gangguan kesehatan tersebut menyarankan antara lain jauhkan ponsel dari kepala, mematikan ponsel, wifi saat tidak digunakan, tidak menggunakan ponsel sewaktu sinyal lemah, meminimalisir penggunaan ponsel di dalam mobil, memilih ponsel dengan SAR (Specific Absorption Rate) rendah. International Comission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP) memberikan batas maksimal 2W/kg.

Nantikan info seminar-seminar berikutnya yang tidak kalah menarik.

Login Form

Hubungi Kami

Gedung Teknologi Informasi, Komunikasi dan Elektronika, No. 254
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang 15314

Tel: (021) 75791272 Ext. 3555

Fax: (021) 75791266